Andre Villas-Boas : Di Mana Salah Itu Semua?

Andre Villas-Boas : Di Mana Salah Itu Semua? – Andre Villas-Boas meninggalkan Tottenham dengan ‘kesepakatan bersama’ pasca kekalahan 5-0 di tangan Brendan Rodgers yang menginsirasi Liverpool di White Hart Lane.

Di sini kita melihat faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kepergian AVB dari Tottenham Hotspur :

Perekrutan massal

Klub merespon atas kehilangan Gareth Bale ke Real Madrid yang memecahkan rekor transfer dunia dengan mendatangkan tidak kurang dari tujuh pemain baru, semuanya belum pernah bermain di Liga Primer Inggris.

Nacer Chadli, Christian Eriksen, Erik Lamela, Roberto Soldado, Étienne Capoue, Paulinho, dan Vlad Chiricheş semua masuk ke dalam skuad Spurs dengan total biaya lebih dari 100 juta pound. AVB gagal untuk menyadari adanya tantangan untuk mengintegrasikan tujuh pemain baru ke dalam tim dan menyesuaikan mereka dengan intensitas Liga Premier.

Para pemain perlu waktu untuk berintegrasi ke dalam skuad, mengenal rekan satu tim mereka, mengenal sepak bola, dan bahkan negara. Pelatih kepala Spurs dan direktur sepak bola, Franco Baldini yang akhirnya bersalah.

 

 

 

Garis pertahanan yang tinggi

Sikap keras yang dilakukan oleh pelatih kepala kepada pemain garis pertahanan agar bermain lebih kedepan menyebabkan pembantaian oleh Manchester City dan Liverpool. Michael Dawson jelas bukan pemain yang disiapkan khusus untuk strategi ini.

Jika AVB ingin bermain dengan cara ini, itu akan masuk akal untuk mendapatkan bek yang bermain dengan cepat. Tapi, bermain dengan garis pertahanan yang tinggi sehingga Dawson hanya menyusun pertahanan untuk melakukan bunuh diri. Jangan sampai kita lupa, AVB melakukan hal yang sama di Chelsea dengan John Terry dibuat menderita di pusat pertahanan.

Taktik untuk Roberto Soldado

Roberto Soldado telah dikritik karena ketidakmampuannya untuk mencetak gol secara konsisten di Liga Premier.

Seorang pemain lulusan tim muda Real Madrid, Soldado berhasil mencetak 81 gol dalam 141 penampilan untuk klub sebelumnya, Valencia,  jadi dia bukan striker terburuk di dunia dengan ukuran apa pun. Dia harus menanggung sebagian besar kesalahan, tapi pelatihnya tidak benar-benar memfasilitasinya untuk mencetak gol, dia bermain di posisi sayap untuk mengambil tembakan ke gawang dari jarak jauh daripada memasoknya dengan umpan-umpan bola dari pemain-pemain sayap.

Bahkan dengan Lennon dan Townsend yang fit untuk bertanding melawan Liverpool, AVB memilih menempatkan Chadli di sisi kiri, daripada Townsend yang lebih baik bermain dengan kaki kiri untuk menggunakan kecepatannya dan mendapatkan beberapa servis dari sisi kiri.

Harapan yang tidak realistis

AVB diharapkan untuk menjadi pesaing dalam meraih gelar. Dengan perubahan manajerial di Manchester United, Manchester City dan Chelsea, mereka melihat musim ini sebagai kesempatan besar. Namun, harapan itu tidak realistis dari beberapa sudut pandang.

Pertama, pengaruh Gareth Bale di tim musim lalu sangat besar. Kehilangan dia selalu akan sulit. Kedua, meskipun terjadi masalah di klub lain, Spurs membawa perubahan besar dalam skuad mereka sendiri.

Tujuh pemain baru adalah perubahan monumental untuk skuad. Dan ketiga, klub gagal untuk mengintegrasikan pemain-pemain baru mereka, tim-tim pesaing telah membuat perbaikan yang lebih signifikan. Arsenal membawa Ozil untuk memberikan semangat pada setiap pemain di Emirates. Chelsea membawa Schurrle, Willian, Eto’o dan yang paling penting  manajer mereka, Jose Mourinho.

Manchester City membuat perbaikan dalam skuad, menjadi yang terkuat di liga. Liverpool di bawah Brendan Rodgers memiliki pemain cerdik seperti Mamadou Sakho, Simon Mignolet, Victor Moses (pinjaman), dan Aly Cissokho (pinjaman) dan berhasil menjaga Luis Suarez, yang bisa dibilang sebagai pemain yang performanya paling mengesankan di dunia pada saat ini bersama dengan Cristiano Ronaldo dan Diego Costa.